DPR AS Sepakati Larangan Impor

Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat sudah kumpulkan suara paling banyak untuk larang import dari daerah Xinjiang, China.

Mereka janji untuk hentikan apakah yang anggota parlemen sebutkan untuk kerja paksa skemaatis oleh komune Uighur. Demikian seperti mencuplik situs BBC, Rabu (23/9/2020).

Walau dilawan usaha AS, undang-undang itu berhasil lolos dengan suara capai 406-3 untuk sinyal kemarahan yang bertambah atas Xinjiang, dimana beberapa aktivis menjelaskan lebih dari 1 juta orang Uighur serta beberapa orang yang beberapa berbahasa Turki sekaligus juga pengikut Muslim sudah ditahan di kamp-kamp.

“Tragisnya, kerja hasil paksa seringkali usai di sini di beberapa toko serta beberapa rumah Amerika,” kata Ketua DPR Nancy Pelosi, sebelum pengambilan suara.

“Kita harus kirim pesan yang pasti ke Beijing: pelanggaran ini harus disudahi saat ini.”

Undang-Undang Penjagaan Kerja Paksa Uighur harus disahkan oleh Senat, yang kemungkinan mempunyai waktu terbatas sebelum penyeleksian 3 November.

Perwakilan Republik Chris Smith menjelaskan, “Kami tidak dapat diam. Kami harus tuntut disudahinya praktek biadab ini serta akuntabilitas dari pemerintah China.”

Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat sudah kumpulkan suara paling banyak untuk larang import dari daerah Xinjiang, China.

Mereka janji untuk hentikan apakah yang anggota parlemen sebutkan untuk kerja paksa skemaatis oleh komune Uighur. Demikian seperti mencuplik situs BBC, Rabu (23/9/2020).

“Tragisnya, kerja hasil paksa seringkali usai di sini di beberapa toko serta beberapa rumah Amerika,” kata Ketua DPR Nancy Pelosi, sebelum pengambilan suara.

“Kita harus kirim pesan yang pasti ke Beijing: pelanggaran ini harus disudahi saat ini.”

Undang-Undang Penjagaan Kerja Paksa Uighur harus disahkan oleh Senat, yang kemungkinan mempunyai waktu terbatas sebelum penyeleksian 3 November.

Perwakilan Republik Chris Smith menjelaskan, “Kami tidak dapat diam. Kami harus tuntut disudahinya praktek biadab ini serta akuntabilitas dari pemerintah China.”