Eksekusi Mati Pembunuh Berlatar Belakang Sihir

Pengadilan Amerika Serikat menyelesaikan mati seorang bekas tentara, William Emmett LeCroy (50) yang yakini pengetahuan sichir. LeCroy sudah dijatuhkan hukuman mati sebab lakukan pemerkosaan serta pembunuhan pada seorang perawat Georgia yang ia pikirkan memakai sichir kepadanya.

Pengacara LeCroy pernah ajukan banding ke Mahkamah Agung AS untuk penangguhan hukuman mati, tapi pengadilan menampiknya serta meletakkan LeCroy dalam posisi pertama semenjak kematian Hakim Ruth Bader Ginsburg. LeCroy pada akhirnya dipastikan wafat pada Selasa 22 September jam 21.06, selesai dilakukan dengan suntikan mematikan di Kompleks Pemasyarakatan Federal di Terre Haute, Indiana.
Seperti dikutip nypost.com, Rabu (23/9/2020), LeCroy dipastikan bersalah sebab membunuh Joann Lee Tiesler pada 7 Oktober 2001. Ia menyelinap ke rumah Tiesler di Cherrylog, Georgia, serta menanti ia datang dari belanja.
Waktu Tiesler datang serta buka pintunya, LeCroy langsung menghantamnya dengan senapan serta mengikatnya. Ia selanjutnya memperkosa serta menusuknya berkali-kali.
Ayah Tiesler, Tom, menjelaskan dalam pengakuan tercatat jika dia lega keadilan pada akhirnya ditegakkan.
Dikutip CNN, Rabu (23/9/2020), berdasar laporan banding yang disodorkan pada 2013, semasa ujian, LeCroy memberitahu psikiater, “Ia yakin jika Joann Tiesler ialah Tinkerbell itu. Sebab apa yang diyakininya pada sichir, terdakwa (LeCroy) jadi yakin jika pengasuhnya itu sudah memberi mantra kepadanya. Sebab apa yang diyakininya pada sichir, terdakwa jadi yakin jika dengan membunuh serta memperkosa Tiesler bisa mengubah mantranya.”
Faksi berkuasa tangkap LeCroy di pos kontrol 2 hari sesudah pembunuhannya serta mendapatkannya mempunyai catatan yang minta pengampunan. “Kamu ialah malaikat serta saya membunuhmu,” catat catatan itu. “Saya seorang gelandangan serta ditakdirkan ke neraka.”
“Tetapi kepercayaan serta hukumannya ditekankan waktu naik banding, serta permohonannya untuk pertolongan agunan tidak diterima,” lebih launching itu.
Itu ialah eksekusi federal ke enam semenjak Departemen Kehakiman menundanya semasa 17 tahun. Jaksa Agung William Barr menjelaskan pada 2019 eksekusi akan diteruskan di bawah pemerintahan Trump.
Ayah Tiesler, Tom Tiesler, menjelaskan eksekusi itu akhiri kematian putrinya.